Transformation to Integration pada SCM

 
Written by Hari Susanto

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas masalah transformasi menuju integrasi pada Supply Chain Management atau manajemen rantai pasokan. Sebelum masuk konsep transformasi pada manajemen rantai pasokan, kita ketahui konsep logistrik secara tradisional di industri yang cepat berubah ini mulai ditinggalkan, karena efektivitas dalam penyediaan produk yang tepat waktu, dan tepat pada tempatnya sangat dibutuhkan. Seperti dalam industri yang cepat berubah, seperti Personal Computer (PC), laptop, ipad, handphone dan barang elektronik lainnya. Produk-produk tersebut mudah usang, sehingga, apabila tidak segera didistribusikan secara tepat, maka hal ini dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar, karena kondisi industri ini tidak stabil dan tak terduga. Selain itu, permintaan konsumen yang semakin menuntut dan semakin beragam, membuat perusahaan perlu mencari cara untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi produk mereka. Untuk itulah perusahaan melakukan transformasi dari konsep logistik secara tradsional menjadi konsep manajemen rantai pasokan.

Terdapat perbedaan antara konsep manajemen rantai pasokan dengan konsep logistik secara tradisional. Konsep logistik secara tradisional umumnya mengacu pada aktivitas-aktivitas yang terjadi di dalam sebuah organisasi, sedangkan rantai pasok mengacu pada jaringan beberapa organisasi yang saling bekerjasama dan berkoordinasi memenuhi kebutuhan konsumen. Perbedaan lainnya, logistik lebih fokus pada aktivitas-aktivitas seperti pengadaan, distribusi, pemeliharaan dan manajemen persediaan. Sedangkan fokus manajemen rantai pasok selain yang dilakukan dalam logistik juga beberapa aktifitas lain meliputi pemasaran, pengembangan produk baru, keuangan dan layanan konsumen (Hugos, 2003, 4).

Dalam Buku ‘Information Technology for Management’, Turban et. al, (2004), dijelaskan definisi Supply Chain Management (manajemen rantai pasokan) merupakan sekumpulan aktivitas (dalam bentuk entitas/fasilitas) yang terlibat dalam proses transformasi dan distribusi barang mulai dari bahan baku paling awal dari alam sampai produk jadi pada konsumen akhir. Sebelumnya kegiatan-kegiatan tersebut mencakup pembelian secara tradisional dan berbagai kegiatan penting lainnya yang berhubungan dengan supplier dan distributor. Dari pengertian di atas maka suatu rantai pasokan terdiri dari perusahaan yang mengangkat bahan baku dari bumi/alam, perusahaan yang mentransformasikan bahan baku menjadi bahan setengah jadi atau komponen, supplier bahan-bahan pendukung produk, perusahaan perakitan, distributor, dan retailer yang menjual barang tersebut ke konsumen akhir. Dengan definisi ini tidak jarang rantai pasokan  juga banyak diasosiasikan dengan suatu jaringan value adding activities. Keunggulan kompetitif dari manajemen rantai pasokan adalah bagaimana ia mampu me-manage aliran barang atau produk dalam suatu rantai pasokan. Dengan kata lain, model manajemen rantai pasokan mengaplikasikan bagaimana suatu jaringan kegiatan produksi dan distribusi dari suatu perusahaan dapat bekerja bersama-sama untuk memenuhi tuntutan konsumen.

Manajemen rantai pasok yang efektif membutuhkan pengembangan-pengembangan yang dilakukan secara simultan baik dari sisi tingkat layanan konsumen maupun internal operating efficiencies dari perusahaan-perusahaan dalam sebuah rantai pasok. Beberapa hal yang harus diperhatikan dari tingkat layanan konsumen adalah tingkat pemenuhan pesanan (order fill rates), ketepatan waktu pengiriman (on-time delivery) dan tingkat pengembalian produk oleh konsumen dengan berbagai alasan (rate of products returned by customer for whatever reason).

Setelah melakukan analisis yang tepat dan desain manajemen rantai pasokan, maka gambar di atas menjelaskan komponen-komponen yang berperan pelaksanaan manajemen rantai pasokan dan proses transformasi As-Is menuju To Be. Gambar di atas menunjukkan tujuan yang paling umum dan komponen transformasi yang melibatkan faktor manusia, proses bisnis, dan teknologi, sehingga dapat membangun pemesanan satu meja secara utuh, pembelian saluran, pelacakan pengiriman, dan sebagainya, untuk mendukung rantai pasokan keputusan Dengan model SCOR (Supply Chain Operations Reference Model) sekalipun yang merupakan standar industri diadopsi secara luas dan mungkin satu-satunya itu namun belum berhasil menangani kerangka transformasi dari tahap “As-Is” untuk “To-Be” untuk proyek-proyek manajemen rantai pasokan. Adapun model pendekatan untuk transformasi akan dijelaskan secara detail setelah bahasan ini. Secara khusus, gambar tersebut hanya menangani komponen proses bisnis dan teknologi tanpa menanggulangi setiap faktor-faktor sosial atau masalah manusia.

Untuk mencapai manajemen rantai pasokan To-Be (masa depan), dilakukanlah integrasi yang dapat menciptakan link antara perusahaan dengan konsumen, pemasok, dan anggota saluran distribusi lainnya. Integrasi ini mendukung adanya perubahan paradigma dari transformasi konsep logistik tradisional ke arah yang lebih kooperatif, berkelanjutan, dan strategi aliansi. Konsep ini menekankan pada integrasi aliran informasi maupun barang untuk proses inovasi perusahaan dalam rangka mencapai peningkatan kapabilitas perusahaan dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen (Lee & Whang, 2000).

Integrasi manajemen rantai pasokan dilakukan untuk mengkoordinasikan aktivitas-aktivitas sepanjang rantai pasokan  sehingga dapat meningkatkan performansi anggota rantai pasokan. Output dari integrasi ini dapat berwujud performa seperti penurunan biaya, peningkatan, pemanfaatan sumber daya, dan peningkatan kecepatan. Sedangkan tahapan rantai pasokan menuju rantai pasokan yang  terintegrasi terdiri dari beberapa tahapan, yaitu :

1. Baseline (Dasar)

Posisi dari kebebasan fungsional yang lengkap di mana    masing-masing fungsi bisnis seperti produksi dan pembelian melakukan aktivitas mereka secara sendiri-sendiri dan terpisah dari fungsi bisnis yang lain.

2. Integrasi Fungsional

Perusahaan telah menyadari perlu sekurang-kurangnya    ada penggabungan antara fungsi-fungsi yang melakukan aktivitas hampir sama, misalnya antara bagian distribusi dan manajemen persediaan atau pembelian dengan pengendalian material.

3. Integrasi secara internal

Diperlukan pengadaan dan pelaksanaan perencanaan kerangka kerja end-to-end.

4. Integrasi secara eksternal

Integrasi rantai pasokan yang sebenarnya adalah  konsep menghubungkan dan koordinasi yang dicapai pada Tahap no. 3, yang diperluas dengan bagian supplier dan pelanggan.

Konsep integrasi pada rantai pasokan di atas adalah penggabungan bagian-bagian / aktivitas-aktivitas hingga membentuk keseluruhan. Fungsinya untuk meningkatkan hubungan di setiap rantai nilai, memfasilitasi pengambilan keputusan, memungkinkan terjadinya penciptaan nilai dan proses transfer dari supplier sampai ke pelanggan untuk mengoperasikan aliran informasi, pengetahuan, peralatan dan aset fisik. Karakteristik integrasi itu sendiri meliputi kerjasama, kolaborasi, berbagi informasi, kepercayaan, kemitraan, berbagi teknologi, kompatibilitas, berbagi resiko dan manfaat, komitmen dan visi yang sama, kebergantungan dan berbagi proses utama. Adapun jenis-jenis integrasi pada manajemen rantai pasokan antara lain :

a. Integrasi fisik : perubahan dalam proses dan aktivitas untuk meningkatkan efisiensi proses inti

b. Integrasi informasi : pertukaran informasi yang berhubungan dengan tingkat inventori, perencanaan transportasi / manufaktur,   peramalan, status aktual proses

c. Integrasi koordinasi : keselarasan proses pengambilan keputusan disepanjang rantai pasok

d. Integrasi desain rantai pasokan : kerjasama di dalam perubahan struktur rantai pasok.

Dalam proses integrasi tersebut, teknologi informasi (TI) dan sistem-sistem yang terkait diperlukan untuk mentransformasi cara perusahaan dalam menggunakan rantai pasokan sehingga memberikan perbedaan dalam prioritas kompetitif, (Kim dan Narasimhan, 2000). Teknologi informasi memungkinkan pembagian cepat dari data permintaan dan penawaran. Dengan membagi informasi di seluruh rantai pasokan ke konsumen akhir, kita bisa membuat sebuah rantai permintaan, diharapkan  pada penyediaan nilai konsumen yang lebih. Tujuannya ialah mengintegrasikan data permintaan dan pasokan jadi gambaran yang akurasinya sudah meningkat yang dapat diambil tentang sifat dari proses bisnis, pasar dan konsumen akhir. Integrasi ini sendiri memungkinkan peningkatan keunggulan kompetitif. Dengan adanya integrasi ini dalam manajemen rantai pasokan akan meningkatkan ketergantungan dan inventori minimum.

Konsep manajemen rantai pasokan memang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi informasi (TI). Bahkan kalau dilihat dari sejarahnya, justru kemajuan TI inilah yang melahirkan prinsip-prinsip dasar rantai pasokan. Alasannya adalah karena pengintegrasian berbagai proses dan entitas bisnis di dalam manajamen rantai pasokan adalah melakukan penggunaan bersama-sama terhadap informasi yang dimiliki dan dihasilkan oleh berbagai pihak.

Seperti dijelaskan di atas peranan informasi dalam manajemen rantai pasokan dipengaruhi oleh teknologi informasi yang digunakan. Teknologi informasi ini mempunyai peranan penting dalam dalam mendukung kinerja manajemen rantai pasokan. Peranan Teknologi Informasi pada masing-masing proses bisnis dalam manajemen rantai pasokan ini adalah  harus dapat menghimpun data secara real time mengenai berbagai informasi yang diperlukan pelanggan, seperti ketersediaan produk, waktu pengiriman, dan status pesanan.

Integrasi end-to-end dari semua elemen rantai pasokan dan fungsi yang dicapai dengan menerapkan komponen yang saling terkait. Rantai pasokan yang terintegrasi mulai dari tahap desain di tingkat vendor untuk waktu ketika ada respon konsumen pada tahap ritel. Jadi dengan adanya manajemen rantai pasokan yang terintegrasi diharapkan memiliki rantai pasokan terpadu yang terbaik karena kinerja pengiriman, persedian barang berkurang, waktu siklus yang lebih cepat, perkiraan yang akurat, biaya rendah rantai pasokan, peningkatan produktivitas secara keseluruhan, pengingkatan utilitas kapasitas, inventori minimum, dan sebagainya.

Sumber :

D. Simchi-Levi, P. Kaminsky, E. Simchi-Levi, Designing and Managing the Supply Chain: Concepts, Strategies, and Case Studies, 2nd ed., McGraw-Hill, 2002.

Karami, Mohamad Amin. The Impact of IT on Supplay Chain Management, 2009.

Min, H. and Zhou, G. (2002). Supply chain modeling: past, present and future,  Journal of Computers and Industrial Engineering, 43:231-249.

S. Chopra & P. Meindl, Supply Chain Management: Strategy, Planning, and  Operation, Prentice Hall, 2001.

Turban et al. (2004), Information technology for management 4th edition, John Wiley & Sons, Inc.

Wang, William Y.C,Heng, Michael S.H Framework for the Supply Chain Operations Reference Model, IGI Global, 2009, 34-50. , Chau, Patrick Y.K. Implementing Supply Chain Management in New Era : A Replenishment

 

http://hari-cio-8a.blog.ugm.ac.id/2013/04/13/transformationtointegration/

http://ali.web.id/detail_article.php?id=64

Ditulis dalam logistic.edu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori
(click here)
coin-ads.com bitcoin advertising network
Arsip
Follow me on Twitter
Ingat !!

"Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu. Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, dari pada makan bistik tetapi budak,"

kata Bung Karno saat berpidato pada HUT Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1963

-Ir.Soekarno-

my pet
%d blogger menyukai ini: