Jelang Kenaikan Harga BBM, Pedagang Cari Untung

Jelang Kenaikan Harga BBM, Pedagang Cari Untung   

Calon Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo berkunjung ke pasar Inpres Senen, Jakarta, Sabtu (31/3). Dalam kunjungannya, Jokowi ingin membangun pasar tradisional tanpa memungut biaya kepada para pedagang jika ia terpilih sebagai gubernur. ANTARA/Zabur Karuru

TEMPO.COSurakarta – Tim Pengendalian Inflasi Daerah Surakarta menduga sebagian pedagang di pasar tradisional sudah mencari untung menjelang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dengan terlebih dulu menaikkan harga. Ketua Tim Teknis TPID Surakarta, Joko Pangarso, mengatakan, pada pekan kedua Mei 2013, sudah ada kenaikan harga beberapa komoditas jika dibandingkan April 2013.

Kenaikan harga berkisar 0,02 persen hingga 7,24 persen. Meski relatif kecil, kenaikan berpengaruh cukup besar ke inflasi karena termasuk komoditas inti, seperti beras, cabai merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras.

“Kenaikan harga disebabkan jelang pemilihan kepala daerah dan jelang kenaikan BBM,” ujar Joko kepada wartawan di sela inspeksi mendadak kebutuhan bahan pokok di Pasar Legi, Surakarta, Selasa, 21 Mei 2013. Padahal stok masih mencukupi bahkan surplus.

Dia menilai ada pedagang yang berspekulasi menaikkan harga kebutuhan pokok lebih dulu sebelum BBM akhirnya naik. Kondisi ini diperparah dengan sikap pemerintah yang tidak segera memutuskan besaran kenaikan harga BBM dan kapan akan diberlakukan.

Salah seorang pedagang beras di Pasar Legi, Mujiono, mengakui ada kenaikan harga beras dalam beberapa hari terakhir. Misalnya beras jenis C4, yang sebelumnya Rp 7.800 per kilogram, naik menjadi Rp 8.000 per kilogram.

“Beras mentik juga naik dari semula Rp 8.300 menjadi Rp 8.800 per kilogram sejak dua minggu lalu,” ujar Mujiono di kiosnya. Tapi dia membantah jika disebut sengaja menaikkan harga karena harga BBM akan naik. Dia beralasan, harga naik karena pasokan seret. “Saat ini tidak panen. Stok mulai berkurang,” katanya.

Jika akhirnya BBM naik, dia memastikan harga beras kembali naik karena ongkos transportasi juga naik. Dalam sehari, dia memiliki stok hingga 10 ton yang dipasok dari Sragen, Karangpandan, dan Delanggu.

Pedagang cabai, Sarjono, mengatakan, harga cabai naik karena pasokan berkurang 50 persen. Dia biasa mendapat 22 ton cabai rawit putih per hari, kini hanya 9 ton per hari. Lalu cabai rawit merah hanya mendapat jatah 3 ton dari biasanya 6 ton per hari. Dia mendapat pasokan dari Jawa Timur, seperti Gresik dan Kediri. “Karena pasokan berkurang, harga jadi naik,” ujarnya.

Cabai rawit merah kini dijual Rp 19.500 per kilogram dari semula Rp 9.000 per kilogram. Lalu cabai merah keriting dari Rp 11 ribu menjadi Rp 19 ribu per kilogram.

Pedagang telur ayam ras, Magdalena, mengatakan, harga telur stabil. Dia menjual telur Rp 12.500-13.500 per kilogram. “Harga tetap. Tidak ada yang menaikkan harga menjelang kenaikan harga BBM,” katanya.

UKKY PRIMARTANTYO

Ditulis dalam News

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori
(click here)
coin-ads.com bitcoin advertising network
Arsip
Follow me on Twitter
Ingat !!

"Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu. Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, dari pada makan bistik tetapi budak,"

kata Bung Karno saat berpidato pada HUT Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1963

-Ir.Soekarno-

my pet
%d blogger menyukai ini: