Get Vote, Get the Future

Ditulis dalam Uncategorized

Perusahaan China-Malaysia Bangun Sawah Rp 20 Triliun di Indonesia

Perusahaan China-Malaysia Bangun Sawah Rp 20 Triliun di Indonesia

(Antara/Adeng Bustomi)

 

Kuala Lumpur : Kelompok agribisnis China-Malaysia tengah berupaya membangun lahan persawahan dan proyek pengolahan terpadu pada November mendatang di Indonesia. Dengan dana investasi US$ 2 miliar (Rp 20,3 triliun), perusahaan China ini berharap bisa memasuki pasar berkembang di tanah air sekaligus memenuhi pasokan beras domestik.

Seperti dilansir dari Malaysia Chronicle, Senin (22/7/2013), perusahaan perkebunan China Liaoning Wufeng Agricultural telah menandatangani nota kesepakatan kerja sama dengan Malaysian Amarak Group dan perusahaan lokal Indonesia, Tri Indah Mandiri.

Wufeng merupakan pemodal utama dalam rencana pengembangan dan pengolahan padi dan kedelai di Subang, Jawa Barat, Indonesia. Amarak diketahui berkontribusi sebesar 20% dari investasi awal di tanah air tersebut. Sebuah laporan menyatakan jumlah investasi tersebut bisa berkembang mencapai US$ 5 miliar (Rp 50,8 triliun).

CEO Wufeng, Ma Dian Cheng mengatakan perusahaannya akan segera mendirikan anak perusahaan lokal lain atas nama Wufeng di dalam negeri. Tujuannya adalah untuk mempermudah pengadaan beberapa fasilitas proses pengolahan beras terpadu dengan Amarak.

Ma mengatakan 80% dari produksi kelompok perusahaan tersebut akan memenuhi pasar Indonesia. Perusahaan tersebut diketahui akan memproduksi cuka dan minyak dari olahan padi.

Setelah ekstraksi minyak, sekam akan dibakar dan bisa menghasilkan listrik untuk keperluan penggilingan padi. Sementara hasi penggilingan padi dengan silika sendiri dapat digunakan untuk manufaktur ban.

“Dengan fasilitas pengolahan kami, tak ada satupun yang terbuang. Kami adalah perintis dari berbagai teknologi di China dan kami ingin berbagi manfaat teknologi tersebut pada Indonesia,” jelas Ma.

Dia lebih lanjut menjelaskan, investasi di Indonesia dapat berkisar di harga US$ 1 miliar hingga US$ 2 miliar yang diperuntukan bagi berbagai penelitian teknis.

Tri Indah sendiri tengah bekerja sama dengan para petani lokal guna menyiapkan 50 ribu hektare (ha) lahan percobaan di Jawa Barat.

Ma mengatakan perusahaan akan berkolaborasi dengan sejumlah universtias lokal untuk mengembangkan teknologi pengolahan padi dan menghasilkan beras berkualitas tinggi.

Sementara Wufeng berencana mengimpor sebagian besar mesin pengolahannya dari China dan menggeser semua mesin lokal yang ada. Ma memastikan kualitas mesinnya lebih baik daripada yang ada di Indonesia.

Sejak didirikan pada 2000, Wufeng memiliki 24 lahan dan 2 ribu karyawan di provinsi Liaoning, China. Perusahaannya terus gencar melakukan perluasan bisnis ke Thailand, Vietnam, Kamboja dimana banyak padi ditanam untuk memasok kebutuhan beras di kawasan China daratan.

Proyek di Indonesia akan menjadi usaha patungan Wufeng yang pertama dan diharapkan dapat memenuhi pasar luar negeri. Direktur Amarak Saadiah Osman mengatakan, usaha patungannya tersebut akan menyediakan modal untuk menggarap lebih dari satu juta hektare lahan persawahan di Indonesia.

Ma mengatakan rencananya untuk tinggal di Indonesia dalam waktu lama mengingat investasi agrikultur membutuhkan kesabaran untuk memperoleh return.

“Kami akan tinggal di Indonesia, karena negara ini pun menyambut baik niat kami,” ujar Ma. Dari penawaran saham perdananya pada publik di Shanghai atau Hong Kong tahun ini, dia berencana menambah investasinya sebesar US$ 1 miliar. (Sis/Shd)

http://bisnis.liputan6.com/read/645663/perusahaan-china-malaysia-bangun-sawah-rp-20-triliun-di-indonesia

Ditulis dalam News

Harga iPhone 5S dan 5C di Singapura dan Malaysia jauh lebih murah!

Dibanding harga di Singapura, iPhone 5S di Indonesia lebih mahal1Rp 1,1 juta sementara iPhone 5C lebih mahal Rp 600 ribu. Perbedaan harga jauh lebih gila lagi jika dibandingkan dengan Malaysia. iPhone 5S di Indonesia lebih mahal Rp 2 juta sedangkan iPhone 5C lebih mahal Rp 1,2 juta.

Fakta ini memberikan gambaran yang jelas, sehingga saya pikir menteri perdagangan kita tidak perlu heran mengapa banyak orang Indonesia lebih memilih membeli iPhone mereka di Singapura atau di Malaysia. Tidak hanya lebih murah, beberapa model handphone juga lebih dulu diluncurkan disana.

iphone 5s 5c

iPhone tampak sangat mahal dalam rupiah

Banyak orang di Indonesia juga terkejut akan tingginya harga iPhone 5S dan 5C. Versi unlockediPhone 5S kini dijual dengan harga Rp 10,5 juta atau sekitar 20 persen lebih mahal dari harga peluncuran iPhone 5 pada bulan Desember 2012. Apa yang terjadi? Jawabannya terletak pada melemahnya mata uang rupiah.

tabel 1 perbandingan harga iPhone 5S 5C Indonesia singapura malaysia

Tabel di bawah ini menunjukkan bahwa meskipun harga rupiah iPhone lebih mahal 20 persen, nilai dolar-nya tetap hampir sama. Pada bulan Desember 2012, USD 1 setara dengan Rp 9.360, tapi hari ini USD 1 setara dengan Rp 12.200. Nilainya menurun 30 persen dan merupakan mimpi buruk untuk semua pecinta gadget di Indonesia. Hal ini juga menjelaskan tingginya harga gadget lain di tanah air seperti Samsung Galaxy Note 3.

tabel 2 perbandingan harga iPhone 5S 5C 5 indonesia

 

refrensi : http://id.berita.yahoo.com/harga-iphone-5s-dan-5c-di-singapura-dan-120754345.html

Ditulis dalam News

PENDING PAYOUT BITCOIN

Untitled-2w
(Payments are automatically sent every Monday to all accounts with a balance greater than 0.00005460 BTC)
Yang artinya Pembayaran/Penarikan dari free bitcoin kedalam rekening wallet anda akan dilakukan secara otomatis terkirim setiap hari Senindengan saldo lebih besar dari 0.00005460 BTC
jika “Auto-Withdraw ENABLED dicentang
Jika saldo anda sudah lebih dari 0.00005460 BTC dan sudah cukup satu minggu dari tanggal pendaftaran, sebelum masuk ke akun wallet, anda akan diberi pemberitahuan pada hari minggu yaitu “PENDING PAYOUT” yang artinya Bitcoin anda sedang masa antrian dan akan masuk ke akun wallet anda pada hari senin. Untuk lebih jelasnya lihat gambar dibawah ini.
Untitled-1
Jika “PENDING PAYOUT” sudah tidak ada lagi di freebitcoin, berarti Coin anda sudah masuk ke akun wallet.
Jika Bitcoin anda sudah terkumpul dan anda ingin menukarkan bitcoin anda kedalam nominal Rupiah. Bisa anda tukarkan dengan cara klik gambar dibawah ini & isi Form Jual Bitcoin
Untitled-2

ref : http://adf.ly/cg5qD

Ditulis dalam Uncategorized

Cara Membuat Wallet dan Mendapatkan BITCOIN GRATIS

Untuk membuat akun wallet / dompet, Buka https://blockchain.info/wallet/login

Untitled-1

(klik gambar untuk lebih jelasnya)

Dari halaman “HOME” kita pindahkan ke halaman “WALLET” yang tertera di paling atas. Kemudian, terlihat ada tulisan “identifier” dan “password” (paing kiri), disitu kamu hanya diberikan code “identifier” nya saja.

Untitled-2

 

(klik gambar untuk lebih jelasnya)

 

kemudian, klik “Start a New Wallet “ pojok kiri atas.

maka anda akan dibawa ke halaman dibawah ini untuk melengkapi kotak yang kosong

Untitled-3

(klik gambar untuk lebih jelasnya)

Jika sudah selesai, klik “Continue”, Selanjutnya kamu dapat login ke wallet yang sudah kamu buat tadi.

Setelah kamu login ke wallet yang telah dibuat tadi, kamu akan diberikan alamat wallet yang menjadi sarana untuk menerima dan mengirim bitcoin.

Alamat wallet kamu berupa gabungan angka dan huruf contohnya seperti Addres Walet milik saya seperti ini : 1JUyy5hcBYnirzVRt8KSVuVVgsJJZRwDpX

Setelah Register cek email kamu untuk melihat data yang di kirim ke email

Selamat sekarang anda sudah memiliki rekening atau wallet di Blockchain dan saatnya anda memulai mengisi rekening anda dengan berburu pada alamat situs-situs yang memberikan secara gratis Bitcoin yang telah kami sertakan pada blog ini.
Nah jika Anda ingin Dapat Bitcoin Cuma-cuma alias gratis
silahkan Lihat di Halaman lain blog saya silahkan KLIK DISINI
Ditulis dalam Uncategorized

BITCOIN (BTC) Will Change Your Life !

Welcome to the FUTURE !!
Do you know about BITCOIN? Bitcoin is a peer-to-peer payment system and digital currency, http://preev.com/btc/idr

NOW !! 1 BITCOIN = $ 808,2 WOOW !! …
Earn your Money Easy per Hour to get BITCOIN.. it’s FREE !!! you can follow this steps bellow:
1. Make Your Wallet, guys…. What your waiting for? to have account (click here)
2. and then, if your’e finish and have an account (Block Chain) you should (click here)
to mine your source income

GOOD LUCK !! AND BECOME RICH !!!! Thankyou…

Gambar : http://stage.draperuniversity.com/wp-content/uploads/2013/06/bitcoin-logo.png

Ditulis dalam Uncategorized

Banjir, Pengusaha Transportasi Darat Merugi Rp 15 Miliar Per Hari

Warga melintasi jalan yang terkena banjir di kawasan Pantura, Pamanukan, Subang, Jabar, Rabu (22/1).

Septianjar Muharam
Rabu, 22 Januari 2014, 19:39 WIB
Warga melintasi jalan yang terkena banjir di kawasan Pantura, Pamanukan, Subang, Jabar, Rabu (22/1).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –Pengusaha moda transportasi angkutan darat diperkirakan mengalami kerugian hingga sebesar Rp15 miliar per hari akibat kelumpuhan jalur pantai utara Jawa akibat banjir yang melanda kawasan tersebut. “Total ada kerugian Rp15 miliar per hari,” kata Ketua Umum DPP Organisasi Angkutan Darat (Organda) Eka Sari Lorena di Jakarta, Rabu.
Ia menambahkan kalkulasi kerugian tersebut baru hitungan sederhana penambahan hari operasional dengan catatan tidak ada masalah tambahan lainnya seperti mogok akibat banjir atau kecelakaan. Penghitungan biaya kerugian itu berdasarkan catatan setiap hari setidaknya ada 6.000 unit angkutan komersial di Pantura dan akibat banjir mengakibatkan biaya tambahan Rp2,5 juta/hari.

Bila banjir terjadi di Pantura seperti tahun lalu, katanya lag, maka total kerugian selama dua pekan dapat mengakibatkan kerugian sektor transportasi darat lebih dari Rp50 miliar.

Tidak hanya di darat, pengusaha angkutan laut seperti Asosiasi Pemilik Kapal Nasional Indonesia (INSA) menyoroti industri pelayaran di Tanah Air yang dinilai menderita kerugian hingga miliaran rupiah akibat cuaca buruk yang berdampak kepada terhentinya pelayaran di berbagai daerah.

“Industri pelayaran nasional diperkirakan menanggung kerugian hingga miliaran rupiah menyusul gelombang tinggi di berbagai perairan di Indonesia dalam beberapa hari terakhir,” kata Ketua Umum INSA, Carmelita Hartoto, Senin (20/1).

Carmelita mengemukakan, hingga saat ini di perairan di Laut Jawa, Selatan Jawa, Selat Karimata, Laut Banda dan Arafura masih dilanda terjadi gelombang tinggi sehingga mengganggu kegiatan pelayaran. Ia juga menyatakan INSA mematuhi maklumat yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan yang melarang pelayaran guna mencegah peristiwa tidak diinginkan.

“Kami patuh kepada maklumat tersebut dan berlayar sesuai surat izin dari syahbandar,” ujarnya. Ia juga menjelaskan, kondisi tersebut menimbulkan kerugian yang diderita lebih dari 12.000 unit kapal niaga nasional ditambah dengan sekitar 200 kapal penyeberangan dan 3.000 kapal pelayaran rakyat akibat cuaca buruk di berbagai kawasan perairan tersebut.

 

http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/14/01/22/mzsz64-banjir-pengusaha-transportasi-darat-merugi-rp-15-miliar-per-hari

Ditulis dalam News

Keputusan Sourcing Dalam Rantai Pasok

Written by scmittelkom (Devi Yuliana, dkk) 

The role of sourcing in a supply chain

Procurement adalah proses dimana perusahaan memperoleh komponen bahan baku, produk, pelayanan atau sumber daya lainnya dari supplier untuk melaksanankan operasi mereka. Sourcing adalah keseluruhan sekumpulan proses bisnis yang diperlukan untuk membeli barang dan jasa. Untuk fungsi rantai pasokan, keputusan yang paling penting adalah apakah outsource atau in-house. Sebuah perusahaan outsource jika perusahaan menyewa perusahaan luar untuk melaksanakan operasi dalam suatu perusahaan. Aktifitas outsourcing rantai pasokan berdasarkan dua pertanyaan:

Akankah pihak ketiga meningkatkan surplus rantai pasokan untuk meningkatkan aktivitas in-house?

Sampai seberapa tingkat resiko tumbuh dari outsourcing?

 

Walaupun keputusan untuk outsource dibuat, proses sourcing meliputi seleksi supplier, mendesain kontrak supplier, kolaborasi desain produk, pengadaan material atau pelayanan dan evaluasi performa supplier.

 

Supplier scoring and assessment adalah proses yang digunakan untuk tingkat performa supplier. Supplier selection adalah penggunaan output dari scoring supplier dan penilaian untuk mengidentifikasikan supplier yang sesuai.

Design collaboration membolehkan supplier dan manufaktur untuk bekerja bersama ketika mendesain komponen untuk produk final. Procurement adalah proses dimana supplier mengirim produk dalam respon untuk menempatkan pesanan pembeli.

Sourcing planning and analysis adalah untuk menganalisis pengeluaran silang berbagai supplier dan kategori komponen untuk mengidentifikasi kesempatan untuk mengurangi biaya total. Ketika mendesain strategi sourcing, yang penting untuk perusahaan menjelaskan faktor pengaruh yang terbesar pada performa dan memperbaiki target dalam area.

 

In-house atau outsource

 

Perusahaan harus mempertimbangkan outsourcing jika pertumbuhan surplus besar dengan risiko yang kecil. Fungsi bentuk in-house lebih baik jika pertumbuhan surplus kecil atau peningkatan resiko besar.

Bagaimana pihak ketiga meningkatkan surplus rantai pasokan : pihak ketiga akan meningkatkan surplus rantai pasokan jika mereka meningkatkan nilai untuk konsumen atau mengurangi biaya rantai pasokan untuk perusahaan melakukan tugas in-house. Pihak ketiga dapat meningkatkan efektif surplus rantai pasokan jika mereka dapat mengumpulkan aset atau mengalir untuk tingkat yang lebih tinggi dari pada perusahaan itu sendiri. Berbagai jenis mekanisme pihak ketiga yang dapat digunakan untuk meningkatkan surplus, yaitu: jumlah kapasitas, jumlah inventory, jumlah transportasi dengan perantara transportasi, jumlah transportasi dengan perantara penyimpanan, jumlah gudang, jumlah pengadaan, jumlah informasi, jumlah piutang, jumlah relationship, biaya rendah dan kualitas tinggi.

Resiko menggunakan pihak ketiga : perusahaan harus mengevaluasi risiko : proses rusak, menaksir biaya koordinasi, mengurangi kontrak konsumen/supplier, hilangnya kemampuan internal dan pertumbuhan dalam kekuatan pihak ketiga, kebocoran informasi dan data sensitif, kontrak tidak efektif

 

Third and Fourth-Party Logistic Providers

 

Third-party logistic (3PL) berkinerja pada satu atau lebih aktifitas logistic yang berhubungan dengan aliran produk, informasi, dan dana yang dapat dikerjakan oleh perusahaan itu sendiri. Dengan meningkatnya globalisasi dari rantai pasokan, konsumen mencari pemain yang dapat mengelola secara virtual semua aspek dari rantai pasokan. Hal ini memunculkan konsep dari fourth-party logistic (4PL).

 

Supplier scoring and assessment

Ketika membandingkan perusahaan, banyak perusahaan membuat kekeliruan pokok hanya fokus pada kuota harga, mengabaikan fakta bahwa penyalur berbeda pada dimensi yang penting yang mempengaruhi biaya total yang digunakan supplier. Ketika menskor dan menakasir supplier, ada faktor lain daripada kuota harga yang harus dipertimbangkan: pemenuhan lead time, performa on-time, fleksibelitas pasokan, frekuensi pengiriman/minimum lot size, kualitas pasokan, biaya transportasi inbound, pricing term, kapabilitas koordinasi informasi, kapabilitas kalaborasi desain, tingkat bunga, pajak dan tugas, kelangsungan hidup supplier.

 

Supplier selection – auctions and negotiations

Sebelum menyeleksi supplier, perusahaan harus memutuskan apakah menggunakan single sourcing atau multiple supplier. Seleksi supplier adalah setelah menggunakan mekanisme yang variasi, meliputi offline competitive bid, reverse auction atau negosiasi langsung. Apapun juga mekasisme yang digunaka, seleksi supplier harus berdasarkan pada biaya total yang digunakan supplier dan tidak hanya harga pembeliaan. Mekanisme lelang yang sering digunakan dalam praktek dan menyoroti semua kekayaan mereka.

 

Lelang dalam rantai pasokan : pembeli perlu struktur lelang untuk meminimalkan biaya mereka dan mendapatkan supplier yang menang dengan biaya yang rendah dengan tawaran mereka. Lelang dibuka seperti lelang bahasa inggris mungkin untuk mencapai outcome. Prinsip dasar negosiasi : kuncy sukses negosiasi, untuk membuat outcome yang sama-sama untung.

 

Contracts and supply chain performance

Kontrak harus didesain untuk memfasilitasi outcome rantai pasokan dan miminimalkan tindakan yang merusak performa. Ada 3 pertanyaan ketika mendesain kontrak rantai pasokan:

Bagaimana kontrak akan mempengaruhi profit perusahaan dan total profit rantai pasokan?

Akankah insentif dalam kontrak memperkenalkan beberapa penyimpang informasi?

Bagaimana kontrak akan mempengaruhi performa supplier sepanjang kunci ukuran performa?

 

Kontrak untuk ketersediaan produk dan profit rantai pasokan : untuk memperbaiki profit secara keseluruhan, supplier harus mendesain kontrak untuk mendukung pembeli untuk membeli lebih dan meningkatkan level ketersediaan produk. Memerlukan supplier untuk berbagi (ikut serta) dalam sebagian dari ketidak-pastian permintaan pembeli. 3 kontrak yang meningkatkan profit secara keseluruhan :

Buyback contract : manufaktur dapat menggunakan buyback kontrak untuk meningkatkan profit. Buyback mendorong retailier untuk meningkatkan level ketersediaan produk. Buyback kontrak mendorong kearah usaha retailer yang lebih rendah dan meningkatkan penyimpangan informasi dalam rantai pasokan.

Revenue – sharing contract : double marginalisasi dengan mengurangi biya per unit yang dikenakan untuk retailier, jadi secara efektig mengurangi biaya overstocking. Revenue – sharing contract meningkatkan penyimpangan informasi dan mendorong kearah usaha retailer yang lebih rendah dalam kasus overstocking, hanya hal nya yang dilakukan buy-back kontrak.

Quantity flexibelity contract : double marginalisasi dengan memberikan retailer kemampuan untuk memodifikasi pesanan berdasarkan perbaikan pendekatan forecast untuk point sale. Hasil kontrak ini dalam rendahnya penyimpangan informasi daripada buy-back atau revenue sharing contract ketika supplier menjual untuk pembeli yang multiple atau kelebihan supplier, kapasitas fleksibel.

 

Design collaboration

Kolaborasi desain dengan supplier dapat membantu perusahaan mengurangi biaya, memperbaiki kualitas dan mengurangi waktu untuk pasar. secara tanggung jawab desain menggerakkan untuk supplier, penting untuk menjamin desain untuk kogistik dan desain untuk prinsip manufaktur untuk diikuti. Untuk sukses, manufaktur harus menjadi koordinator desain efektif dalam rantai pasokan.

 

The procurement process

Proses pengadaan untuk material langsung harus fokus pada memperbaiki koordinasi dan jarak pandang dengan supplier. Proses pengadaan untuk material tidak langsung harus fokus pada mengurangi biaya transaksi untuk setiap pesanan. Proses pengadaan dalam dua kasus harus konsolidasi pesanan untuk mendapatkan keuntungan skala ekonomis dan kuantitas diskon.

 

Sourcing planning and analysis

Pengeluraan pengadaan harus di analisis penyalur dan bagian untuk memastikan kecocokan skala ekonomi. Analisis performa supplier harus digunakan untuk membangun portfolio supplier dengan kekuatan komplementer. Murah, tetapi perform yang rendah, supplier harus menggunakan untuk persediaan berdasarkan permintaan sedangkan perform yang tinggi tapi lebih mahal, supplier harus menggunakan untuk menahan melawan variasi dalam permintaan dan persediaan dari sumber daya lain.

 

Risk management in sourcing

Resiko sourcing dapat juga dalam ketidakmampuan untuk memenuhi permintaan tepat waktu, meningkatkan dalam biaya pengadaan atau hilangnya properti intelektual. Penting untuk mengembangkan strategi peringanan yang membantu mengurangi bagian dari resiko Ketidakmampuan dalam memenuhi permintaan tepat waktu timbul karena gangguan atau penundaan dari sumber daya yang tersedia.

 

Making sourcing decisions in practice

Menggunakan tim multifungsional

Memastikan koordinasi yang sesuai ke lintas daerah dan bisnis unit

Selalu mengevaluasi biaya total dari kepemilikan

Membangun hubungan jangka panjang dengan kunci supplier

 

http://scmittelkom.wordpress.com/about/

Ditulis dalam logistic.edu

Transformation to Integration pada SCM

 
Written by Hari Susanto

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas masalah transformasi menuju integrasi pada Supply Chain Management atau manajemen rantai pasokan. Sebelum masuk konsep transformasi pada manajemen rantai pasokan, kita ketahui konsep logistrik secara tradisional di industri yang cepat berubah ini mulai ditinggalkan, karena efektivitas dalam penyediaan produk yang tepat waktu, dan tepat pada tempatnya sangat dibutuhkan. Seperti dalam industri yang cepat berubah, seperti Personal Computer (PC), laptop, ipad, handphone dan barang elektronik lainnya. Produk-produk tersebut mudah usang, sehingga, apabila tidak segera didistribusikan secara tepat, maka hal ini dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar, karena kondisi industri ini tidak stabil dan tak terduga. Selain itu, permintaan konsumen yang semakin menuntut dan semakin beragam, membuat perusahaan perlu mencari cara untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi produk mereka. Untuk itulah perusahaan melakukan transformasi dari konsep logistik secara tradsional menjadi konsep manajemen rantai pasokan.

Terdapat perbedaan antara konsep manajemen rantai pasokan dengan konsep logistik secara tradisional. Konsep logistik secara tradisional umumnya mengacu pada aktivitas-aktivitas yang terjadi di dalam sebuah organisasi, sedangkan rantai pasok mengacu pada jaringan beberapa organisasi yang saling bekerjasama dan berkoordinasi memenuhi kebutuhan konsumen. Perbedaan lainnya, logistik lebih fokus pada aktivitas-aktivitas seperti pengadaan, distribusi, pemeliharaan dan manajemen persediaan. Sedangkan fokus manajemen rantai pasok selain yang dilakukan dalam logistik juga beberapa aktifitas lain meliputi pemasaran, pengembangan produk baru, keuangan dan layanan konsumen (Hugos, 2003, 4).

Dalam Buku ‘Information Technology for Management’, Turban et. al, (2004), dijelaskan definisi Supply Chain Management (manajemen rantai pasokan) merupakan sekumpulan aktivitas (dalam bentuk entitas/fasilitas) yang terlibat dalam proses transformasi dan distribusi barang mulai dari bahan baku paling awal dari alam sampai produk jadi pada konsumen akhir. Sebelumnya kegiatan-kegiatan tersebut mencakup pembelian secara tradisional dan berbagai kegiatan penting lainnya yang berhubungan dengan supplier dan distributor. Dari pengertian di atas maka suatu rantai pasokan terdiri dari perusahaan yang mengangkat bahan baku dari bumi/alam, perusahaan yang mentransformasikan bahan baku menjadi bahan setengah jadi atau komponen, supplier bahan-bahan pendukung produk, perusahaan perakitan, distributor, dan retailer yang menjual barang tersebut ke konsumen akhir. Dengan definisi ini tidak jarang rantai pasokan  juga banyak diasosiasikan dengan suatu jaringan value adding activities. Keunggulan kompetitif dari manajemen rantai pasokan adalah bagaimana ia mampu me-manage aliran barang atau produk dalam suatu rantai pasokan. Dengan kata lain, model manajemen rantai pasokan mengaplikasikan bagaimana suatu jaringan kegiatan produksi dan distribusi dari suatu perusahaan dapat bekerja bersama-sama untuk memenuhi tuntutan konsumen.

Manajemen rantai pasok yang efektif membutuhkan pengembangan-pengembangan yang dilakukan secara simultan baik dari sisi tingkat layanan konsumen maupun internal operating efficiencies dari perusahaan-perusahaan dalam sebuah rantai pasok. Beberapa hal yang harus diperhatikan dari tingkat layanan konsumen adalah tingkat pemenuhan pesanan (order fill rates), ketepatan waktu pengiriman (on-time delivery) dan tingkat pengembalian produk oleh konsumen dengan berbagai alasan (rate of products returned by customer for whatever reason).

Setelah melakukan analisis yang tepat dan desain manajemen rantai pasokan, maka gambar di atas menjelaskan komponen-komponen yang berperan pelaksanaan manajemen rantai pasokan dan proses transformasi As-Is menuju To Be. Gambar di atas menunjukkan tujuan yang paling umum dan komponen transformasi yang melibatkan faktor manusia, proses bisnis, dan teknologi, sehingga dapat membangun pemesanan satu meja secara utuh, pembelian saluran, pelacakan pengiriman, dan sebagainya, untuk mendukung rantai pasokan keputusan Dengan model SCOR (Supply Chain Operations Reference Model) sekalipun yang merupakan standar industri diadopsi secara luas dan mungkin satu-satunya itu namun belum berhasil menangani kerangka transformasi dari tahap “As-Is” untuk “To-Be” untuk proyek-proyek manajemen rantai pasokan. Adapun model pendekatan untuk transformasi akan dijelaskan secara detail setelah bahasan ini. Secara khusus, gambar tersebut hanya menangani komponen proses bisnis dan teknologi tanpa menanggulangi setiap faktor-faktor sosial atau masalah manusia.

Untuk mencapai manajemen rantai pasokan To-Be (masa depan), dilakukanlah integrasi yang dapat menciptakan link antara perusahaan dengan konsumen, pemasok, dan anggota saluran distribusi lainnya. Integrasi ini mendukung adanya perubahan paradigma dari transformasi konsep logistik tradisional ke arah yang lebih kooperatif, berkelanjutan, dan strategi aliansi. Konsep ini menekankan pada integrasi aliran informasi maupun barang untuk proses inovasi perusahaan dalam rangka mencapai peningkatan kapabilitas perusahaan dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen (Lee & Whang, 2000).

Integrasi manajemen rantai pasokan dilakukan untuk mengkoordinasikan aktivitas-aktivitas sepanjang rantai pasokan  sehingga dapat meningkatkan performansi anggota rantai pasokan. Output dari integrasi ini dapat berwujud performa seperti penurunan biaya, peningkatan, pemanfaatan sumber daya, dan peningkatan kecepatan. Sedangkan tahapan rantai pasokan menuju rantai pasokan yang  terintegrasi terdiri dari beberapa tahapan, yaitu :

1. Baseline (Dasar)

Posisi dari kebebasan fungsional yang lengkap di mana    masing-masing fungsi bisnis seperti produksi dan pembelian melakukan aktivitas mereka secara sendiri-sendiri dan terpisah dari fungsi bisnis yang lain.

2. Integrasi Fungsional

Perusahaan telah menyadari perlu sekurang-kurangnya    ada penggabungan antara fungsi-fungsi yang melakukan aktivitas hampir sama, misalnya antara bagian distribusi dan manajemen persediaan atau pembelian dengan pengendalian material.

3. Integrasi secara internal

Diperlukan pengadaan dan pelaksanaan perencanaan kerangka kerja end-to-end.

4. Integrasi secara eksternal

Integrasi rantai pasokan yang sebenarnya adalah  konsep menghubungkan dan koordinasi yang dicapai pada Tahap no. 3, yang diperluas dengan bagian supplier dan pelanggan.

Konsep integrasi pada rantai pasokan di atas adalah penggabungan bagian-bagian / aktivitas-aktivitas hingga membentuk keseluruhan. Fungsinya untuk meningkatkan hubungan di setiap rantai nilai, memfasilitasi pengambilan keputusan, memungkinkan terjadinya penciptaan nilai dan proses transfer dari supplier sampai ke pelanggan untuk mengoperasikan aliran informasi, pengetahuan, peralatan dan aset fisik. Karakteristik integrasi itu sendiri meliputi kerjasama, kolaborasi, berbagi informasi, kepercayaan, kemitraan, berbagi teknologi, kompatibilitas, berbagi resiko dan manfaat, komitmen dan visi yang sama, kebergantungan dan berbagi proses utama. Adapun jenis-jenis integrasi pada manajemen rantai pasokan antara lain :

a. Integrasi fisik : perubahan dalam proses dan aktivitas untuk meningkatkan efisiensi proses inti

b. Integrasi informasi : pertukaran informasi yang berhubungan dengan tingkat inventori, perencanaan transportasi / manufaktur,   peramalan, status aktual proses

c. Integrasi koordinasi : keselarasan proses pengambilan keputusan disepanjang rantai pasok

d. Integrasi desain rantai pasokan : kerjasama di dalam perubahan struktur rantai pasok.

Dalam proses integrasi tersebut, teknologi informasi (TI) dan sistem-sistem yang terkait diperlukan untuk mentransformasi cara perusahaan dalam menggunakan rantai pasokan sehingga memberikan perbedaan dalam prioritas kompetitif, (Kim dan Narasimhan, 2000). Teknologi informasi memungkinkan pembagian cepat dari data permintaan dan penawaran. Dengan membagi informasi di seluruh rantai pasokan ke konsumen akhir, kita bisa membuat sebuah rantai permintaan, diharapkan  pada penyediaan nilai konsumen yang lebih. Tujuannya ialah mengintegrasikan data permintaan dan pasokan jadi gambaran yang akurasinya sudah meningkat yang dapat diambil tentang sifat dari proses bisnis, pasar dan konsumen akhir. Integrasi ini sendiri memungkinkan peningkatan keunggulan kompetitif. Dengan adanya integrasi ini dalam manajemen rantai pasokan akan meningkatkan ketergantungan dan inventori minimum.

Konsep manajemen rantai pasokan memang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi informasi (TI). Bahkan kalau dilihat dari sejarahnya, justru kemajuan TI inilah yang melahirkan prinsip-prinsip dasar rantai pasokan. Alasannya adalah karena pengintegrasian berbagai proses dan entitas bisnis di dalam manajamen rantai pasokan adalah melakukan penggunaan bersama-sama terhadap informasi yang dimiliki dan dihasilkan oleh berbagai pihak.

Seperti dijelaskan di atas peranan informasi dalam manajemen rantai pasokan dipengaruhi oleh teknologi informasi yang digunakan. Teknologi informasi ini mempunyai peranan penting dalam dalam mendukung kinerja manajemen rantai pasokan. Peranan Teknologi Informasi pada masing-masing proses bisnis dalam manajemen rantai pasokan ini adalah  harus dapat menghimpun data secara real time mengenai berbagai informasi yang diperlukan pelanggan, seperti ketersediaan produk, waktu pengiriman, dan status pesanan.

Integrasi end-to-end dari semua elemen rantai pasokan dan fungsi yang dicapai dengan menerapkan komponen yang saling terkait. Rantai pasokan yang terintegrasi mulai dari tahap desain di tingkat vendor untuk waktu ketika ada respon konsumen pada tahap ritel. Jadi dengan adanya manajemen rantai pasokan yang terintegrasi diharapkan memiliki rantai pasokan terpadu yang terbaik karena kinerja pengiriman, persedian barang berkurang, waktu siklus yang lebih cepat, perkiraan yang akurat, biaya rendah rantai pasokan, peningkatan produktivitas secara keseluruhan, pengingkatan utilitas kapasitas, inventori minimum, dan sebagainya.

Sumber :

D. Simchi-Levi, P. Kaminsky, E. Simchi-Levi, Designing and Managing the Supply Chain: Concepts, Strategies, and Case Studies, 2nd ed., McGraw-Hill, 2002.

Karami, Mohamad Amin. The Impact of IT on Supplay Chain Management, 2009.

Min, H. and Zhou, G. (2002). Supply chain modeling: past, present and future,  Journal of Computers and Industrial Engineering, 43:231-249.

S. Chopra & P. Meindl, Supply Chain Management: Strategy, Planning, and  Operation, Prentice Hall, 2001.

Turban et al. (2004), Information technology for management 4th edition, John Wiley & Sons, Inc.

Wang, William Y.C,Heng, Michael S.H Framework for the Supply Chain Operations Reference Model, IGI Global, 2009, 34-50. , Chau, Patrick Y.K. Implementing Supply Chain Management in New Era : A Replenishment

 

http://hari-cio-8a.blog.ugm.ac.id/2013/04/13/transformationtointegration/

http://ali.web.id/detail_article.php?id=64

Ditulis dalam logistic.edu

Mengukur Efektifitas Supply Chain

Written by labsistemtmip

Performance suatu supply chain apakah efektif atau tidak dapat diukur dengan menggunakan suatu indikator.  Indikator yang digunakan dalam mengukur performance tersebut dikenal dengan Key Performance Indicator (KPI). KPI biasanya diperoleh dari hasil benchmarking terhadap literatur, artikel, jurnal, annual report suatu perusahaan publik dan sebagainya.

Penggunaan KPI sebagai pengukur Supply Chain menjadi efektif karena KPI berisi kriteria-kriteria yang diharapkan terhadap output dari supply chain yang ada.  Berikut ini adalah beberapa indikator yang dapat digunakan:

1.      Dalam faktor perencanaan (Planning).

Supply chain yang efektif adalah supply chain yang mempunyai perencanaan dimana perencanaan ini dimulai dengan supply chain design dilanjutkan dengan tahap implementasi dan evaluasi yang diikuti dengan continous improvement.

 Pelaksanaan dari perencanaan yang ada.

Perencanaan dari supply chain yang sudah ditetapkan harus dilakukan dan terus dilakukan evaluasi, sehingga indikator efektivitas dari point ini adalah membandingkan perencanaan yang ada dengan implementasinya.

 Detailed supply chain planning.

Perencanaan dalam supply chain harus merupakan sesuatu yang terperinci dalam pengertian adanya batas waktu pelaksanaan, pelaksana yang bertanggung jawab dan diadakan evaluasi.  Evaluasi ini mencakup permasalahan dari implementasi perencanaan yang ada beserta solusi yang ditawarkan pada periode selanjutnya.

 

2. Dalam faktor Information System.

Transisi model manajemen sebagian besar diakibatkan oleh ketepatan waktu penyajian informasi manajemen dengan dukungan perangkat lunak, perangkat keras dan programmer. Walaupun demikian, tidak jarang sistem informasi masih dipandang sebelah mata, yakni hanya sebagai pengolahan data dan statistik (Yanuar, 2003). Kebutuhan informasi yang cepat dan tepat merupakan sesuatu yang sangat significant sekali dalam mengimplementasikan supply chain sebagai salah satu strategi bersaing perusahaan. Memang dalam mengadopsi sistem informasi kedalam implementasi supply chain membutuhkan biaya yang sangat besar, namun perlu dipertimbangkan karena biaya melakukan kesalahan akibat kehilangan informasi yang akurat dan cepat atau biaya kehilangan peluang yang ada akibat mengadopsi sistem informasi jauh lebih besar dibandingkan biaya yang dibutuhkan utnuk membangun sistem informasi (Donovan, 2003). Dibawah ini merupakan kriteria dalam suatu sistem informasi sebagai pendukung dalam implementasi supply chain:

 

Integrated system/ real time communication.

Dalam implementasi supply chain sistem informasi yang terintegrasi memegang perananan yang sangat penting sekali, salah satunya untuk meningkatkan fungsi integrasi diantara rantai pasokan barang yang ada. Mengenai sistem informasi ini Ramalhinho (October, 2002) mengatakan sebagai berikut: “The key to success in Supply Chain Management (SCM) require heavy emphasis on integration of activities, cooperation, coordination and information sharing throughout the entire supply chain, from supplier to customer”. Ukuran dari sistem yang terintegrasi ini dilihat dari apakah adanya kelebihan produksi, keterlambatan atau kesalahan produksi yang disebabkan tidak adanya informasi terintegrasi antara bagian pemasaran, produksi dan pembelian bahan baku. Sistem yang terintegrasi inilah yang memungkinkan adanya komunikasi yang realtime. Hanfield dalam bukunya Supply Chain Redesign mengatakan sebagaii berikut yang berkaitan dengan pentingnya komunikasi dalam supply chain (2002:16):  “The improvement of supply chain relationship occurs through a great deal of communication and problem solving activities between organization, including joint improvement projects, shared training programs, co-location of personnel, workshop presenting corporate plans, as well as meeting between the perspective organizations’ personnel at all levels of the organization from top management to hourly employees.”

 

DSS / Expert system.

Decision-Support System (DSS) merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam implementasi supply chain, karena supply chain dihadapakan keputusan yang demikian bervariasi dan kompleks (Levi.,et al, 2000:264). Salah satu aplikasi DSS digubakan dalam menentukan jumlah pembelian bahan baku secara cepat dan akurat. Banyak inovasi yang bisa dilakukan dalam aplikasi DSS, bukan hanya pada penentuan jumlah pemeblian bahan baku tapi sampai tahap networking. Village Software (2003) mengatkan sehubungan dengan pentingnya DSS dalam supply chain sebagai berikut: “The related areas of Decision Support and Management Information System are critical in competitive environments. If an organisation has good transaction processing systems valuable data can be made available to help management”.  Ukuran kriteria ini dilihat dari ada tidaknya DSS yang dimiliki oleh perusahaan dalam mendukung implementasi supply chain.

 

Consumer management.

Hal ini berbicara mengenai pengelolahan hubungan antara perusahaan dengan pelanggan. Pengukurannya dilakukan dengan melihat apakah ada usaha khusus yang dilakukan oleh perusahaan dalam membangun hubungan dengan pelanggan, misalnya dengan pengembangan Customer Relationship Managemnet (CRM), dan yang kedua adalah dengan melihat apakah hubungan yang baik tersebut membantu perusahaan dalam melakukan perencanaan dalam pembelian bahan baku. Modul atau aplikasi CRM biasanya digunakan oleh departemen penjualan dan pemasaran untuk memproses penawaran dan order penjualan dengan tujuan menciptakan hubungan dengan pelanggan yang lebih baik. Modul-modul CRM juga membantu menganalisa kebiasaan konsumen dan membuat perencanaan pada penjualan

 

Catalogue management.

Catalogue management memusatkan diri pada pengenalan produk perusahaan kepada pelanggan, baik secara pasif maupun aktif, dimana dilihat apakah ada penerapan IT dalam memeperkenalakan produk perusahaan. Pasif disini dalam pengertian adanya fasilitas yang digunakan oleh pelanggan untuk memiliki akses terhadap produk perusahaan. Aktif dalam pengertian perusahaan yang berinisiatif memperkenalkan kepada pelanggan.

 

Order management.

Adanya kemudahan pelanggan dalam melakukan pemesanan merupakan sesuatu yang perlu diperhatikan. Pengukurannya dilakukan dengan melihat keluhan pelanggan dalam melakukan pemesanan.

 

Accurate costing per customer.

Biaya supply chain secara keseluruhan seharusnya dapat diketahui, sehingga dapat diketahui biaya yang sebenarnya setiap pelanggan.

 

Cost added and value added analysis.

Adanya analisa yang dilakukan untuk membedakan kegiatan-kegiatan yang hanya menambah biaya (non-valu added) dan yang memberikan nilai tambah.

 

3. Dalam faktor Goods.

Persediaan merupakan hal yang cukup penting untuk diatur dengan baik. Persediaan dalam konteks ini berbicara mengenai bagaimana mengatur persediaan bahan baku yang ada, baik dalam hal pengadaannya maupun pendistribusian bahan baku tersebut untuk kebutuhan produksi. Namun hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa kebutuhan bahan baku tersebut tidak akan diketahui tanpa sebuah informasi. Hal inilah yang membuat bahwa bahan baku dan informasi merupakan dua hal yang berdampingan.

  

Periodic inventory policy review.

Kebijakan disini misalnya kebijakan mengenai tingkat pemesanan kembali. Adanya evaluasi terhadap kebijakan persediaan, dimana evaluasi ini disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. Pembelian bahan baku sesuai dengan proporsi kebutuhan pelanggan.

 

Sentralisasi inventory.

Sentralisasi disini bukan dalam pengertian fisik, tetapi lebih kearah perencanaan yang terintegrasi dari keseluruhan mata rantai mengenai persediaan bahan baku, dimana dalam kondisi yang ideal informasi kebutuhan persediaan bahan baku berasal dari berbagai departemen, baik departemen pemasaran maupun produksi. Pengukurannya dilihat pada rapat koordinasi yang terjadi sampai implementasi dari koordinasi tersebut yang mengarah pada perencanaan pengadaan bahan baku.

 

Melakukan reorder point pada tingkat yang direncanakan.

Pengukurannya dilihat pada implementasi pemesanan kembali. Mengoptimalkan pembelian barang (good price, good quality).  Adanya usaha yang dilakukan untuk mendapatkan barang dengan harga dan kualitas yang bagus, sehingga dilakukannya seleksi terhadap supplier yang ada.

 

4. Dalam faktor Organization.

Sistem organisasi yang baik harus dibuat dalam mendukung implementasi supply chain yang ada, dalam rangka menciptakan supply chain yang efektif. Tidak jarang alur pasokan barang tertunda karena proses aministrasi yang banyak seperti terlalu banyaknya pengecekan kembali yang bersifat non-value activity. Manajemen berdasarkan proses. Salah satu kunci dari suksesnya implementasi supply chain adalah perubahan dari organisasi fungsional menjadi organisasi horisontal. Kunci dari organisasi horisontal adalah organisasi yang disusun berdasarkan prosesbukan berdasarkan fungsi. Dengan adanya perubahan ini maka pembentukan perspektif integrasi akan lebih mudah pada diri karyawan karena perspektif integrasi ini merupakan salah satu hambatan yang seringkali terjadi dalam implementasi strategi usaha (Eksekutif September 2003:53)

 

Komunikasi yang terbuka antar rantai.

Komunikasi antar mata rantai harus dilakukan secara rutin, transparan dan terbuka.

 

Shared Culture.

Hal ini berbicara mengenai komunikasi yang dibangun dari top level management kepada karyawan mengenai implementasi supply chain yang ada berupa sharing yang akhirnya dibangun menjadi suatu budaya perushaan. Melalui pendekatan baik formal maupun informal akan tercipta perubahan paradigma karyawan dari pola pikir yang sempit kearah pola pikir yang dapat melihat gambaran besar dari aktivitas yang ia lakukan, karena supply chain berbicara mengenai pemikiran yang terintegrasi dalam keselurahan rantai yang ada (semua proses produksi).

 

Managing People.

Sumber daya manusia merupakan hal yang sangat perlu diperhatikan dalam implementasi suatu strategi, karena sumber daya manusialah yang menjadi ujung tombak keberhasilan dari implementasi tersebut. Hal inilah yang membuat perlunya training dan pembinaan yang cukup terhadap kompetensi dan keahlian yang dibutuhkan karyawan dalam mengerjakan tanggungjwabnya. Tanpa memberikan training dan pembinaan yang tepat maka implementasi supply chain akan gagal atau memiliki performance yang buruk. Salah satu contohnya adalah training kepada karyawan ketika perusahaan mengadopsi suatu sistem informasi yang baru atau melakukan up-grade dalam rangka mengimplementasikan supply chain.

 

5. Dalam faktor Strategic Partnering.

Dengan adanya kompetisi yang semakin ketat, perusahaan banyak menempuh cara partnering sebagai cara yang jitu untuk mengintegrasikan supply chain dari mata rantai yang paling hulu sampai mata rantai yang paling hilir. Kemitraan bisnis didefinisikan oleh Poirier dan Reiter, sebagaimana dikutip oleh Indrajit sebagai berikut: “Is process through which the involved parties establish and sustain a competitive advantage over similar entities, through pooling resources in trusting atmosphere focused on continuous, mutual improvement” (Poirier and Reiter, 1996).

 Kriteria untuk strategic partnering adalah sebagai berikut: Partner as operational part of supply planning. Misalnya dengan melibatkan dalam perencanaan pebeliaan bahan baku. Sistem informasi terpadu, misalnya: Vendor Managed Inventory (VMI). Adanya kepercayaan antar partner, misalnya penukaran informasi melalui Electronic Data Interchange (EDI).  Proyek bersama, misalnya: iklan bersama, design produk. Pembatasan jumlah supplier (preferred supplier).

 

6. Dalam faktor supply chain process audit & continuous improvement.

Aktivitas supply chain merupakan sesuatu yang perlu diaudit dalam rangka untuk mengadakan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.  Perbaikan dalam pengertian mencari solusi dari hambatan terhadap implementasi supply chain yang ada. Hambatan dalam konteks ini adalah suatu kondisi dimana supply chain tidak dapat dilakukan seperti kondisi supply chain yang ideal. Selain mencari solusi juga sebagai evaluasi apakah karena kriteria supply chain yang ideal tersebut tidak sesuai dengan kondisi perusahaan jika tetap dipaksakan untuk dilakukan.

 

http://labsistemtmip.wordpress.com/2010/01/06/mengukur-efektifitas-supply-chain/

http://ali.web.id/detail_article.php?id=63

Ditulis dalam logistic.edu
Kategori
(click here)
coin-ads.com bitcoin advertising network
Arsip
Follow me on Twitter
Ingat !!

"Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu. Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, dari pada makan bistik tetapi budak,"

kata Bung Karno saat berpidato pada HUT Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1963

-Ir.Soekarno-

my pet
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.